Minggu, 01 Juni 2014
kesultanan langkat pada masa sejarah
kesultanan langkat pada masa sejarah
Kerajaan Langkat merupakan salah satu
dari beberapa kerajaan melayu yang ada di wilayah pesisir timur pulau
Sumatera. Kerajaan ini hadir dengan corak keislaman yang kuat, karena
tercermin dalam budaya masyarakat dan peninggalan-peninggalan seni
arsitektur Islam seperti masjid, madrasah, dan lain sebagainya.
Munculnya kerajaan melayu yang bercorakkan Islam ini, paling tidak
membawa pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan dan kebudayaan
Islam khususnya di daerah Langkat.
Dalam pada itu, penulis mencoba
mengungkapkan kembali sejarah kerajaan Langkat berfokus pada dinamika
keagamaan, sosial budaya, ekonomi dan politik, serta nuansa intelektual
pada masa tersebut. Semua hal tersebut saling memiliki keterkaitan dan
keterikatan dalam membangun sebuah peradaban. Semuanya akan digali
dengan berbagai macam sumber yang ada. Beberapa literatur yang berkenaan
dengan kerajaan Langkat akan dikumpulkan kembali, dan sumber-sumber
lainnya didapat melalui cerita atau kisah-kisah orang terdahulu serta
pengamatan langsung kelapangan, sehingga membutuhkan suatu pengamatan
yang mendalam dalam memberikan interpretasi sejarah. Untuk itu saran dan
masukan yang konstuktif tentunya sangat diharapkan bagi kesempurnaan
makalah ini.
Awal kelahiran dan Perkembangannya
Wilayah kabupaten Langkat yang
dikenal sekarang ini sebelumnya adalah sebuah kerajaan. Wilayahnya
terbentang antara aliran sungai Seruwai atau daerah Tamiang (sekarang
menjadi wilayah Aceh Timur) sampai ke aliran anak sungai Wampu. Terdapat
sebuah sungai lainnya diantara kedua sungai ini, yaitu sungai Batang
Serangan yang merupakan jalur pusat kegiatan nelayan dan perdagangan
penduduk setempat dengan luar negeri terutama ke Penang atau Malaysia.
Sungai Batang Serangan ketika bertemu dengan sungai Wampu, namanya
menjadi sungai Langkat. sehingga dapat dikatakan, wilayah kerajaan
Langkat lahir dan berkembang di sekitar kawasan sungai-sungai di daerah
Langkat yang meliputi kawasan Tamiang sampai ke Binjai dan wilayah
Bahorok.
Nama kerajaan Langkat diambil
dari nama sebuah pohon yakni pohon langkat[1]. Pohon ini dulunya banyak
tumbuh di sekitar pinggiran sungai Langkat tersebut. Jenis pohon ini
sekarang sudah langka dan hanya terdapat di hutan-hutan pedalaman daerah
Langkat. Pohon langkat ini menyerupai pohon langsat, tetapi rasanya
pahit dan kelat. Oleh karena pusat kerajaan Langkat berada di sekitar
sungai Langkat, maka kerajaan ini akhirnya populer dengan nama kerajaan
Langkat.
Silsilah kesultanan Langkat
menyatakan bahwa nama leluhur kerajaan Langkat yang terjauh diketahui
adalah Dewa Sahdan.[2] Sampai saat ini asal usulnya masih menjadi
sesuatu yang bervariasi. Satu pendapat mengatakan, ia lahir di tengah
hutan belantara dan dibesarkan di Kuta Buluh (dekat kaki gunung Sibayak)
Kira-kira hidup pada tahun 1500 sampai 1580 masehi. Versi yang lain
menyebutkan bahwa Dewa Sahdan adalah putra kerajaan Haru yang dibungkus
oleh istri raja, lalu diletakkan di bawah pohon buluh (bambu) di
kerajaan Kutabuluh.[3] Ada juga yang menyebutnya sebagai saudara dari
Putri Hijau, yang kemudian mendirikan kerajaan Aru pertama di
Besitang.[4]
Kerajaan Aru atau Haru menurut
T. Lukman Sinar adalah kerajaan Islam yang telah berdiri pada
pertengahan abad ke-13. Wilayah kekuasaaannya meliputi antara Tamiang
(Aceh Timur) hingga Rokan (Propinsi Riau). Ini dibuktikan dengan catatan
dari Tiongkok ketika Haru mengirimkan misi ke Tiongkok Pada tahun 1282
M.[5] Begitu juga dalam kronik “Nagarakertagama” karangan Mpu Prapanca,
ada di sebutkan kata “Kampe” (kampai) dan “Harw” atau Haru.[6] Kerajaan
ini diislamkan bersamaan dengan Samudera Pasai dan Fansur (Barus
sekarang).
Dewa Sahdan pada mulanya berasal
dari kerajaan Aru di Besitang[7] yang kemudian diserang dan ditaklukkan
oleh kerajaan Aceh, Setelah kerajaan ini musnah, ia kemudian lari
menyelamatkan diri dan mendirikan kerajaan Aru II di Deli Tua kerajaan
ini juga kemudian dihancurkan oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima
Gocah Pahlawan sekitar tahun 1612. Puing-puing peninggalan kerajaan Aru
II ini dibangun kembali dan merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan
Deli, dimana raja pertamanya adalah panglima perang Aceh tersebut, yaitu
Gocah Pahlawan. Ketika itu kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh
Sultan Iskandar Muda sedang meluaskan daerah kekuasaannya ke wilayah
sumatera timur.[8] Setelah kalah dari Aceh Darussalam, Dewa Sahdan
kembali menyelamatkan diri dan berhasil membangun kerajaan baru di Kota
Rantang di daerah Hamparan Perak, dari keturunan kerajaan inilah
kerajaan Langkat berdiri.
Pendiri kerajaan Langkat yang
dikenal adalah Raja Kahar pada pertengahan abad ke-18. Raja Kahar lahir
tahun 1673-1750. Penjelasan T. Lukman Sinar, bahwa Raja Kahar ketika
mendirikan Kerajaan Langkat di Kota Dalam (kecamatan Hinai), usianya
sudah cukup tua kira-kira 77 tahun.[9] Jadi, Raja Kahar diperkirakan
hanya sebentar saja memerintah Langkat. Sejak itu, nama Langkat sebagai
sebuah kerajaan mulai terdengar walaupun daerah kekuasaannya masih
belum begitu luas dan pusat kerajaan masih berpindah-pindah. Baru
setelah sultan Musa berkuasa maka pusat kerajaan resmi berada di kota
Tanjung Pura, ia secara damai meluaskan wilayahnya, sehingga wilayah
kekuasaan Langkat bertambah luas mulai dari perbatasan Aceh Tamiang
sampai di kawasan Binjai dan Bahorok. Berkaitan dengan data-data yang di
dapatkan bahwa makalah ini akan lebih berfokus pada pemerintahan sultan
Musa di Tanjung Pura, yang diteruskan oleh sultan Abdul Azis dan sultan
Mahmud hingga berakhirnya kekuasaan kerajaan Langkat pada tahun 1946.
Adapun Silsilah Kerajaan Langkat
adalah: Dewa Sahdan lahir tahun 1500-1580 di Kuta Buluh, Dewa Sakti
lahir tahun 1580-1612 dan Wafat pada perang Aceh, Raja Abdullah atau
Marhum Guri lahir tahun 1612-1673, Raja Kahar lahir tahun 1673-1750
berkuasa di kota Dalam Secanggang, Badiulzaman bekuasa tahun 1750-1814,
Kejeruan Tuah Hitam berkuasa tahun 1814-1823, Raja Ahmad berkuasa tahun
1824-1870, Sultan Musa berkuasa tahun 1870-1896 di Tanjung Pura,
Sultan Abdul Aziz berkuasa tahun 1896-1926 di Tanjung Pura, Sultan
Mahmud berkuasa tahun 1926-1946 di Binjai.
Dinamika Keagamaan
Masyarakat melayu Langkat
sebelum adanya kerajaan Langkat diketahui sudah beragama Islam,
khususnya di wilayah pesisir. hal ini dikarenakan wilayah Langkat yang
berbatasan dengan daerah Aceh, membawa dampak bagi perkembangan agama
Islam. Menurut Marco Polo, pada tahun 1292, telah ditemukan komunitas
masyarakat Islam di wilayah Pasai dan pada abad ke-14 M, Islam telah
berkembang di daerah pesisir timur Sumatera. Pada masa ini orang-orang
melayu berperan besar dalam penyebaran agama Islam ke pelosok
nusantara,[10] begitu juga hubungan perdagangan dengan semenanjung
Malaka, membuat pengembangan Islam begitu pesat di kawasan ini. Dengan
berdirinya kerajaan Langkat yang didirikan oleh pemeluk agama Islam maka
Islam pun dijadikan sebagai landasan hidup bagi masyarakat di wilayah
tersebut.
Kerajaan Langkat terutama
setelah berpusat di Tanjung Pura, menjadikan agama Islam sebagai pedoman
dan legitimasi terhadap kebijakan-kebijakan sultan dan kerajaan secara
umum. Masyarakat yang mayoritas beragama Islam dalam berbagai dinamika
kehidupannya telah mencerminkan perilaku keislaman yang kuat, walaupun
di sana-sini masih terdapat kepercayaan-kepercayaan peninggalan Hindu,
Animisme dan lain sebagainya. Dalam hal ini, ibadah-ibadah praktis
selalu dapat ditemukan dalam dinamika masyarakat Langkat, seperti shalat
berjamaah, mengaji di langgar, dan pengajian-pengajian agama yang
banyak bertemakan aqidah dan tasawuf.
Selanjutnya untuk mendukung hal
tersebut, maka sultan-sultan Langkat membangun fasilitas-fasilitas
peribadatan, masjid-masjid yang megah dan indah bentuknya seperti masjid
Azizi di Tanjung Pura, masjid Raya Stabat dan Binjai serta beberapa
madrasah yang dibangun untuk pendidikan rohani rakyat.[11] Mengenai
gaji-gaji guru dan pegawai (nazir) masjid, demikian juga untuk
pemeliharaan gedung-gedung tersebut semuanya ditanggung oleh pihak
kerajaan.[12]
Berkaitan dengan hari-hari besar
Islam, seperti pada bulan Ramadhan, maka kesultanan Langkat memberikan
bantuan-bantuan ke masjid-masjid berupa makanan-makanan dan minuman bagi
masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih, witir dan tadarus serta
memberikan bantuan berupa sedekah kepada masyarakat-masyarakat yang
kurang mampu ketika menjelang Idul Fitri[13] hal ini menjadikan
masyarakat selalu menaruh simpati kepada para sultan, karena pihak
kerajaan begitu aktif dalam memberikan bantuan-bantuan yang bersifat
keagamaan.
Dalam penerapan syariat Islam,
kesultanan Langkat memiliki guru-guru agama yang sekaligus dijadikan
sebagai penasihat sultan untuk dimintai pendapatnya berkaitan dengan
permasalahan hukum Islam. Dalam sistem kehidupan masyarakat melayu,
seluruh warganya terikat dengan adat Resam melayu. Adat ini sebagian
besar dipengaruhi oleh agama Islam. Maksudnya, kebiasaan-kebiasaan yang
tidak sesuai dengan yang diajarkan atau yang diatur dalam agama Islam
berangsur-angsur akan dihilangkan. Jadi adat resam melayu adalah adat
dan kebiasaan masyarakat melayu yang telah diislamisasi. Di sini, peran
guru-guru agama cukup besar dalam menginternalisasi nilai-nilai Islam
kedalam masyarakat Langkat.
Dinamika keagamaan yang begitu
kuat, dapat dilihat dengan keberadaan Babussalam sebagai pusat kegiatan
Tarekat Naqsabandiyah. Yaitu pada masa sultan Musa berkuasa di Tanjung
Pura. Pusat tarekat tersebut muncul dan berkembang menjadi sebuah simbol
keagamaan pada masa tersebut dan bahkan sampai saat ini. Pendiri
Tarekat Naqsabandiyah di Langkat adalah Syaikh Abdul Wahab Rokan[14]
Syaikh ini lahir dari keluarga yang taat beragama, ia mengaji di
berbagai surau di Riau daratan dan pergi belajar ke Mekkah untuk
menyambung pelajarannya di sana selama lima atau enam tahun pada tahun
1860-an.[15] Tarekat Naqsabandiyah ini akhirnya membawa pengaruh yang
besar di kawasan Sumatera dan semenanjung Malaysia. Menurut Martin Van
Bruinessen, hanya dengan sendirian saja, ia telah mampu menandingi
dengan apa yang dicapai para syekh di Minangkabau seluruhnya.[16]
Syekh Abdul Wahab adalah murid
dari syekh Sulaiman Zuhdi di Mekkah.[17] Sekembalinya ke tanah air, ia
aktif mengajar agama dan tarekat di beberapa kerajaan, seperti wilayah
Langkat, Deli Serdang, Asahan Kualuh, Panai di Sumatera Utara, dan Siak
Sri Inderapura, Bengkalis, Tambusai, Tanah Putih Kubu di Propinsi Riau.
Sampai kini murid-muridnya tersebar luas di propinsi Aceh, Sumatera
Utara, Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan. Khalifah-khalifah
beliau yang giat mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di luar negeri,
telah berhasil mendirikan rumah-rumah suluk dan peribadatan, di Batu
Pahat, Johor, Pulau Pinang, Kelantan, dan Thailand.[18]
Setelah mengunjungi berbagai
tempat, akhirnya syekh Abdul Wahab memutuskan untuk tinggal dan menetap
di kampung Besilam daerah Langkat. setelah terlebih dahulu diminta oleh
sultan Musa, maka Syekh Abdul Wahab ditempatkan di sekitar kota Tanjung
Pura, setelah beberapa hari syekh tersebut memohon kepada sultan Musa
untuk diberikan sebidang tanah untuk perkampungan agar ia dapat
beribadah dan mengajarkan ilmu agama dengan leluasa, sultan
menyetujuinya dan keesokan harinya berangkatlah sultan Musa beserta
Syekh Abdul Wahab dan beberapa orang lainnya menyusuri sungai Batang
Serangan, hingga dapatlah sebuah tempat yang cocok. Tempat ini akhirnya
diberi nama oleh syekh Abdul Wahab dengan nama kampung Babussalam.
Belakangan daerah ini terkenal dengan nama kampung Besilam.[19] Beberapa
waktu kemudian yaitu pada tanggal 15 Syawal 1300 H. (1876) berangkatlah
Syekh Abdul Wahab beserta keluarga dan murid-muridnya pindah ke
Babussalam.
Dengan berdirinya Babussalam,
maka kegiatan keagamaan yang bercirikan tarekat mulai berkembang di
kerajaan Langkat, pengaruh yang kuat bagi perkembangan Tarekat
Naqsabandiyah, adalah turut sertanya sultan Langkat dalam kegiatan
tarekat tersebut, beserta beberapa pembesar kerajaan, sehingga
masyarakat yang memiliki simpati terhadap sultan, ikut serta dalam
kegiatan tersebut, di samping dengan nama besar syekh Abdul Wahab,
sebagai ulama terpandang membuat masyarakat Langkat, maupun yang berada
di luar kawasan Langkat seperti dari daerah Batu bara, Tapanuli, Riau
dan beberapa daerah lain berdatangan untuk mengaji dan bersuluk.
Beberapa dari mereka akhirnya menetap di daerah Langkat.
Dinamika Sosial dan Budaya
Di masa kesultanan Langkat,
dalam masyarakat dikenal pelapisan masyarakat atau kelas-kelas sosial
yang membedakan keturunan bangsawan dan rakyat biasa. Golongan bangsawan
adalah keturunan raja-raja yang dikenali dengan gelar-gelar tertentu,
seperti tengku, sultan dan datuk.[20] Dalam hal ini peninggalan
hinduisme masih melekat pada masyarakat. Bahkan sisa-sisa pelapisan
sosial lama masih nampak dalam masyarakat melayu saat ini. Misalnya
masih ditemukan sekelompok orang yang berasal dari keturunan
sultan-sultan dulu, mereka biasanya dipanggil dengan gelar Tengku. Lalu,
bekas pegawai kesultanan dengan keturunannya biasanya dipanggil dengan
gelar Datuk. Sedangkan keturunan tengku dan datuk kebanyakan dipanggil
dengan gelar Wan.[21]
Dengan adanya pelapisan sosial
pada masyarakat, maka keturunan raja dan aristokrat di Langkat mempunyai
kesempatan yang lebih besar untuk hidup makmur dibandingkan dengan
rakyat biasa. Mereka masing-masing diberi jabatan dan diberi kekuasaan
untuk mengatur atau mengelola kejeruan-kejeruan (kecamatan) di daerah
Langkat. Pembagian kekuasaan dan hasil daerah membuat golongan bangsawan
Langkat dapat hidup berkecukupan dalam bidang materi.[22] Ini berbeda
dengan golongan rakyat biasa yang harus membayar pajak (upeti/blasting)
dari hasil pertanian dan perkebunannya kepada kesultanan. Namun ada dari
rakyat biasa yang dapat hidup mewah dan berkecukupan dan biasanya
mereka adalah tuan-tuan tanah atau orang-orang kepercayaan sultan.
Dalam bidang kebudayaan,
sebagaimana yang telah disinggung diatas bahwa mayoritas masyarakat
Langkat sudah beragama Islam dan ajaran-ajaran Islam tersebut terlihat
jelas dalam kebudayaan dan adat istiadat masyarakat melayu Langkat.
Misalnya dalam membicarakan suatu permasalahan dalam sebuah kampung,
biasanya akan dimusyawarahkan di masjid. Begitu juga dengan acara-acara
lainnya seperti acara turun ke sawah, kerja bakti, ataupun menyelesaikan
suatu perselisihan maka sebelumnya telah ada kesepakatan antara warga
setempat. Musyawarah tersebut biasanya akan dihadiri oleh Penghulu
(kepala kampung), Pengetua adat dan Imam Masjid.
Sebagian dari adat-adat Melayu
tersebut juga diatur oleh pihak kesultanan, diantaranya mengaji
al-Qur’an, tepian mandi, syair dan hikayat, hiburan dan kesenian,
pakaian dalam pergaulan, mengirik padi, mendirikan rumah dan lain
sebagainya.[23] Misalnya dalam mengaji al-Qur’an, setiap orang tua yang
mempunyai anak wajib mengajari anaknya membaca Qur’an sampai tamat
(khatam). Jika orang tua mempunyai anak batas usia masuk mengaji, harus
membawa anaknya kepada seorang guru mengaji sambil membawa pulut
setalam, beras secupak, minyak lampu sebotol dan sepotong rotan.[24]
Begitu juga dengan urusan mandi dan mencuci di sungai yang disebut
tepian mandi. Peraturan yang berlaku adalah bahwa para wanita mandi di
daerah hulu, sedangkan pihak laki-laki mandi di daerah hilir, hal ini
diatur agar kaum wanita khususnya para gadis tidak bertemu dengan pihak
laki-laki ketika hendak mandi. dan lain sebagainya.
Pengamalan ajaran Islam yang
begitu kuat pada masyarakat Melayu lama, ternyata belum bisa menepis
kepercayaan-kepercayaan bersifat animisme dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya kepercayaan yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam
dunia ini mempunyai jiwa atau roh. Jiwa orang yang sudah mati yaitu
roh, mampu mempengaruhi kehidupan manusia yang masih hidup. Karena itu
harus dipuja supaya tidak mengganggu. Selain itu kepercayaan terhadap
hantu dan jin, serta pohon-pohon kayu besar, batu-batu besar dan
tanaman-tanaman yang banyak bermanfaat seperti pohon kelapa dan enau
memiliki roh.[25] Sehingga dalam masyarakat Melayu lama banyak di
temukan upacara-upacara yang sering dilaksanakan dan memiliki pengaruh
dengan kepercayaan Hindu dan Animimisme seperti; upacara tepung tawar
pada saat hendak melaksanakan pernikahan, ibadah haji dan lain
sebagainya, jika seseorang baru terkena musibah atau bencana, maka ia
harus memakai pilis[26], hal ini dilakukan agar mengembalikan
semangatnya dan terhindar dari gangguan-gangguan hantu dan jin-jin dan
seterusnya[27]
Kepercayaan-kepercayaan ini pada
umumnya telah ditemukan pada masa masyarakat Melayu lama sepanjang
pesisir pulau Sumatera baik di daerah Langkat, Deli, Serdang, Batu Bara,
Siak dan seterusnya. Dalam hal ini masyarakat Melayu pada umumnya masih
sering melaksanakan upacara-upacara tersebut khususnya dalam
acara-acara pernikahan, kelahiran anak, menempati rumah baru, membuka
hutan untuk dijadikan perladangan dan lain sebagainya. Adanya asimilasi
antara kepercayaan-kepercayaan pra-Islam dengan ajaran-ajaran Islam
sendiri telah menimbulkan budaya dan adat-istiadat tersendiri bagi
masyarakat Melayu, khususnya bagi komunitas Melayu pesisir Sumatera.
Dinamika Ekonomi
Kerajaan Langkat termasuk kepada
kerajaan yang makmur, ini terlihat dari bangunan-bangunan yang
didirikan pada masa kerajaan ini seperti istana-istana yang megah,
lembaga pendidikan dan masjid yang berdiri dengan indah dan kokoh.
Menurut Laporan John Anderson selaku wakil pemerintahan Inggris di
Penang bahwa pada tahun 1823 kerajaan Langkat merupakan sebuah kerajaan
yang kaya. Ekspor ladanya bermutu sangat baik, mencapai 20.000 pikul (+
800.000 kg) dalam setahun. Hasil-hasil lainnya dari Langkat seperti
rotan, lilin, buah-buahan hutan, gambir, emas (dari Bahorok), gading,
tembakau dan beras.[28]
Sumber penghasilan kesultanan
Langkat, terutama berasal dari hasil pertanian, pajak perkebunan asing
(Deli Maatschappij yang sekarang menjadi PTPN), perdagangan dan hasil
pertambangan minyak bernama “De Koniklijke” (Koniklijke Nederlandsche
Maatschappij Tot Exploitatie Petroleumbronnen In Nederlandsche-Indie)
atau juga dikenal dengan nama BPM (Bapapte Petroleum Maatschappij)
sehingga kesultanan Langkat terkenal sebagai kerajaan yang kaya.[29]
Kekayaan kerajaan turut dinikmati oleh rakyatnya, ini dibuktikan bahwa
setiap tahun sultan mengeluarkan zakat atau sedekah dengan mengumpulkan
seluruh rakyat di masjid atau istana pada malam 27 Ramadhan. Kepada
mereka diberikan uang sebesar f 2,50 per-orang. Ketika itu jumlah ini
cukup untuk membeli beras sebanyak 50 kati [30] serta memberikan
bantuan-bantuan lainnya seperti minyak lampu yang digunakan untuk
penerangan di bulan Ramadhan.
Dinamika intelektual
Berdasarkan data yang didapatkan
bahwa sebelum tahun 1900, kerajaan Langkat belum memiliki lembaga
pendidikan formal. Pendidikan yang dilaksanakan masih dengan pendidikan
non formal, yaitu dengan belajar kepada guru-guru agama ataupun
ahli-ahli dalam bidang tertentu. Bagi keluarga kerajaan juga diberikan
pendidikan yang seperti ini. Para guru-guru itu diundang ke istana untuk
memberikan ceramah dan pengajaran kepada raja beserta keluarganya.
Ketika itu dinamika intelektual khususnya dalam bidang pendidikan belum
menjadi fokus perhatian para sultan. Nampaknya mereka masih sibuk dengan
masalah politik yang terjadi, yaitu berkaitan dengan perluasan wilayah
kekuasaan dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadikan dinamika
intelektual di Langkat tidak berkembang dengan baik dan kurang mendapat
perhatian. Baru, setelah sultan Abdul Aziz menjadi sultan Langkat,
lembaga pendidikan formal yang dinamakan maktab (baca: madrasah) dapat
berdiri dan menjadi pusat pendidikan agama bagi masyarakat Langkat.
Dengan berdirinya madrasah
Al-masrullah tahun 1912, madrasah Aziziah pada tahun 1914 dan madrasah
Mahmudiyah tahun 1921, maka Langkat menjadi salah satu dari tempat yang
dituju oleh pencari-pencari ilmu dari berbagai daerah. Disebutkan bahwa
selain dari masyarakat Langkat yang belajar pada kedua maktab tersebut,
maka banyak pelajar-pelajar yang datang dari dalam dan luar pulau
Sumatera, seperti Riau, Jambi, Tapanuli, Kalimantan Barat, Malaysia,
Brunei dan lain sebagainya.[31]
Pada awalnya madrasah (maktab)
ini hanya disediakan untuk anak-anak keturunan raja dan bangsawan saja,
namun pada perkembangannya maktab ini memberikan kesempatan kepada siapa
saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu. Beberapa tokoh nasional
yang pernah belajar di maktab ini antara lain adalah Tengku Amir Hamzah
dan Adam Malik (mantan wakil presiden RI).
Dalam biografinya Adam Malik
meyebutkan bahwa madrasah Al-masrullah termasuk lembaga yang mempunyai
bangunan bagus dan modern menurut ukuran zaman tersebut. Di mana
masing-masing anak dari keluarga berada (kaya) mendapat kamar-kamar
tersendiri. Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah ini sama
seperti sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12
tahun mulai dipisahkan dari orang tua mereka untuk tinggal di
kamar-kamar tersendiri dalam suasana yang penuh disiplin.
Fasilitas-fasilitas olah raga juga disediakan di sekolah tersebut
seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam renang milik kesultanan
Langkat.[32]
Ketiga lembaga pendidikan
tersebut didirikan oleh sultan Abdul Aziz yang kemudian diberi nama
dengan perguruan Jama’iyah Mahmudiyah. Pada tahun 1923 perguruan
Jama’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang asrama,
disamping berbagai fasilitas lainnya seperti 2 buah Aula, sebuah rumah
panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan
sebagainya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada perguruan Jama’iyah
Mahmudiyah, maka tenaga pengajarnya sebagian besar merupakan guru-guru
yang pernah belajar ke Timur tengah seperti Mekkah, Medinah dan Mesir.
Mereka semua dikirim atas biaya Sultan setelah sebelumnya diseleksi
terlebih dahulu, hingga sekitar tahun 1930 siswa-siswa yang belajar di
perguruan ini sekitar 2000 orang yang berasal dari berbagai macam
daerah.[33]
Selanjutnya sultan Abdul Azis
kemudian mendirikan lembaga pendidikan umum bagi masyarakat Langkat
yaitu sekolah HIS dan Sekolah Melayu, yang banyak memberikan
materi-materi pelajaran umum. Mengenai gaji-gaji guru dan biaya
perawatan bangunan semuanya ditanggung oleh pihak kesultanan Langkat,
dalam hal ini dapat dikatakan bahwa segala biaya yang berkaitan dengan
fasilitas-fasilitas pendidikan di Langkat ditanggung sepenuhnya oleh
pemerintahan kerajaan.
Memang pada awal tahun 1900-an
Pemerintahan Belanda telah mendirikan sekolah Langkatsche School [34]
(baca: Sekolah Belanda). Namun penerimaan siswanya masih sangat
terbatas, di masa itu yang diterima hanya anak-anak bangsawan dan dan
anak pegawai Ambtenaar Belanda serta orang-orang kaya yang berharta,
dalam bahasa pengantarnya lembaga pendidikan ini menggunakan bahasa
Belanda. Selain itu didirikan juga ELS (Europese Logare School) dan
untuk anak-anak keturunan Cina didirikan Holland Chinese School atau
HCS.
Bagi masyarakat yang ingin
memperdalam ajaran agama melalui buku-buku Islam, dalam hal ini Tuan
guru Babussalam syekh Abdul Wahab Rokan telah menerbitkan dan mencetak
buku-buku yang bertemakan masalah-masalah keislaman, antara lain : buku
Aqidul Islam, Kitab Sifat Dua Puluh, Adab Az-zaujain dan lain-lain.[35]
karena di Babussalam pada saat itu telah ada mesin cetak, yang dibeli
guna untuk menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh Syekh Abdul Wahab
sendiri. Mesin cetak tersebut sebagian besar didanai oleh sultan Musa.
Berkaitan dengan masalah
intelektual, kesultanan Langkat memiliki seorang Amir Hamzah yang
dikenal sebagai seorang penyair, sastrawan dan pahalawan Nasional. Ia
lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, berasal dari
keturunan sultan Langkat, ayahnya yang bernama Tengku Pangeran Adil
adalah cucu dari sultan Musa. Pendidikannya diawali setelah ia
menamatkan sekolahnya di Tanjung Pura, Amir Hamzah dikirim orang tuanya
ke MULO di Medan. Setelah satu tahun di Medan ia dipindahkan ke MULO
Jakarta. Setelah tamat di MULO Jakarta, ia melanjutkan pendidikannya di
A.M.S. Bagian ketimuran di Solo. Pada saat di Jawa ia banyak terlibat
organisasi pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu Gerakan Indonesia Muda
bersama dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan M. Yamin. Amir juga aktif
menulis artikel di Majalah Timbul serta editor di majalah Pujangga Baru,
di samping itu ia juga menjadi tenaga pengajar di Taman Siswa dan
Perguruan Muhammadiyah[36]. Pada saat di Jawa ia banyak menerbitkan
sajak-sajak yang terhimpun dalam Buah Rindu dan Nyanyian Sunyi. Menurut
Shafwan Hadi Umri (ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara) Amir Hamzah
dalam sajak-sajaknya banyak terinspirasi dengan sajak-sajak Li Tai Po
(Tiongkok), Basho (Jepang), Rav-Das (India) dan Umar Khayyam di Persia.
Melihat pergerakan Amir Hamzah
di Jawa, Maka Belanda meminta kepada sultan Mahmud yang saat itu
berkuasa untuk menyuruh Amir Hamzah Pulang ke Langkat, dengan ancaman
jika Amir Hamzah tidak menghentikan kegiatannya maka kerajaan Langkat
akan di hancurkan Belanda. Kesultanan Langkat yang pada saat itu telah
dikendalikan oleh Pemerintahan Belanda tidak dapat berbuat banyak
kecuali meminta Amir Hamzah pulang ke Langkat untuk menghentikan
kegiatannya di Jawa. Amir Hamzah dengan terpaksa akhirnya menuruti
permintaan pamannya Sultan Mahmud. Ketika tiba di Langkat ia diserahkan
tugas sebagai ketua umum pengurus besar Maktab Jama’iyah Mahmudiyah.[37]
Di Langkat Amir Hamzah sempat menuliskan sajak-sajak seperti Insaf dan
Sebab Dikau. Namun sajak-sajaknya lebih banyak bertemakan kebencian dan
keputus-asaan. Hingga pada tahun 1946 Amir Hamzah diculik dan dibunuh
oleh pihak yang mengaku sebagai pejuang RI karena dituduh sebagai kaki
tangan penjajah Belanda.
Dinamika Politik
Berkaitan dengan masalah
politik, kerajaan Langkat tidak dapat dipisahkan dengan
kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Ada dua kerajaan besar yang selalu
disebut-sebut dalam sejarah kerajaan Langkat yaitu kerajaan Aceh dan
kerajaan Siak. Selain itu, tidak dapat dikesampingkan juga mengenai
pemerintahan kolonial Belanda yang pada akhirnya berhasil menguasai
kerajaan-kerajaan Melayu yang ada di sepanjang pesisir timur pulau
Sumatera, termasuk kerajaan Langkat pada pertengahan abad ke-19.
Akhirnya menjelang tahun kemerdekaan repoblik Indonesia, penjajahan
Jepang juga berhasil menguasai kerajaan Langkat, hingga pada tahun 1946
terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur yang menjadi akhir masa
pemerintahan kerajaan Langkat dan digantikan menjadi wilayah kabupaten.
Peristiwa-peristiwa berikut akan dijelaskan secara ringkas dalam bagian
ini.
Ketika pusat kerajaan Langkat
masih berpindah-pindah, wilayah teritorial dan kekuasaan hanya terbatas
pada wilayah yang kecil dan di sekitar berdirinya pusat kerajaan
tersebut. Beberapa hal yang dapat di ketahui dari berpindah-pindahnya
pusat kerajaan Langkat adalah berkaitan dengan masalah keamanan dan
penyerbuan oleh kerajaan-kerajaan lain, serta pemilihan tempat yang
strategis bagi perkembangan kerajaan. Ketika itu Langkat bukan merupakan
kerajaan yang memiliki angkatan armada perang yang kuat, sehingga
dengan mudah dapat dikuasai dan dikalahkan oleh kerajaan yang besar
seperti Aceh dan Siak. Setelah kalah dan pusat kerajaan dihancurkan
oleh kerajaan lain maka raja Langkat berhasil melarikan diri dan kembali
membangun kerajaan di tempat yang lain.
Pada awal abad ke 19 kerajaan
Siak Sri Inderapura berhasil menaklukkan Langkat di mana ketika itu yang
berkuasa adalah Kejeruan Tuah Hitam[38] maka untuk menjamin kesetiaan
Langkat kepada Siak, maka putra kerajaan Langkat yang bernama Nobatsyah
dan Raja Ahmad dibawa ke Siak untuk dinikahkan dengan putri-putri
kerajaan Siak. Salah satu dari keturunan mereka yang bernama Tengku Musa
dinobatkan menjadi raja Langkat berkedudukan di Tanjung Pura.[39]
Seperti kerajaan-kerajaan
lainnya, kerajaan Langkat juga tidak luput dari perang saudara. Perang
saudara yang sering disebutkan adalah antara Nobatsyah (Raja Bendahara)
dengan Raja Ahmad. Setelah mereka dinikahkan di Siak, tidak berapa lama
kemudian mereka dipulangkan dan menjadi penguasa Langkat secara
bersamaan. Dapat diketahui bahwa sebelum 1865 struktur pemerintahan
kerajaan Langkat masih sangat sederhana. Menurut laporan John Anderson
selaku wakil pemerintahan Inggris di Penang ketika mengunjungi Langkat
pada tahun 1823, Siak belum mengangkat Raja untuk Langkat namun telah
memberikan gelar “Raja Muda” kepada Ahmad dan gelar “Bendahara” kepada
Nobatsyah yang masing-masing memiliki istana yang berdekatan. Mungkin
Siak membiarkan mereka berduel siapa yang menang akan diangkat menjadi
raja. Tapi menurut Anderson bahwa pengikut Ahmad lebih banyak dan lebih
berwibawa.[40]
Akhirnya antara Nobatsyah dan
Raja Ahmad terjadi peperangan dalam memperebutkan kekuasaan. Dalam
perang saudara yang terjadi, Nobatsyah tewas sehingga Raja Ahmad tampil
sebagai penguasa tunggal, yang kemudian diakui oleh Siak. Setelah Raja
Ahmad berkuasa, maka ia memberi otonomi luas kepada kejeruan-kejeruan
kecil di wilayah kekuasaan Langkat
Dalam pada itu,
keturunan-keturunan mereka yang lain menguasai wilayah-wilayah di
sekitar Langkat seperti kejeruan Stabat, Bingai, Selesai dan lain-lain.
dengan demikian, kerajaan Langkat menjadi besar dan luas wilayahnya
lebih disebabkan pada pembagian kekuasaan antara keturunan-keturunan
raja Langkat, masing-masing dari mereka mendapat otoritas untuk
mengelola wilayahnya masing-masing. Setelah Raja Ahmad meninggal maka
kemudian digantikan oleh putranya Tengku Musa yang ketika itu masih
tinggal bersama Ibunya di Siak.
Setelah pemerintahan sultan
Musa, sistem pemerintahan di kesultanan Langkat dilaksanakan berdasarkan
sistem otonomisasi wilayah. Kekuasaan sultan tidak mencampuri
urusan-urusan wilayah yang ditaklukkannya, tetapi memberikan kebebasan
kepada setiap kejeruan (kecamatan) untuk mengatur daerahnya sendiri.
Namun untuk beberapa daerah strategis dan vital untuk sumber kekayaan
kesultanan, seperti Bandar-bandar pelabuhan akan ditempatkan orang-orang
perwakilan Sultan.[41]
Pada masa kesultanan Langkat,
wilayah teritorial terkecil yang berada dalam satu pemerintahan kejeruan
disebut “Kampung”. Sedangkan “kejeruan” adalah pemerintahan yang
membawahi beberapa kampung yang dikepalai oleh seorang kepala kejeruan
dengan gelar “datuk”. Datuk sebagai penguasa dalam satu kejeruan
memerintah di daerahnya atas nama Sultan. Wilayah yang setingkat dengan
kejeruan adalah wilayah pesisir sebagai pusat Bandar perhubungan air dan
juga pusat perdagangan. Biasanya sebagai penguasa di daerah ini
ditempatkan tokoh-tokoh dari pusat kesultanan sebagai wakil Sultan.
Mereka yang menduduki jabatan ini adalah berstatus bangsawan, seperti
“tengku”. Tetapi bisa juga dari golongan rakyat biasa atau orang
kepercayaan Sultan yang bergelar Datuk Syahbandar.[42]
Pada tahun 1857, Belanda
mengikat perjanjian persahabatan dengan Aceh sebagai dua bangsa yang
merdeka. Dalam perjanjian tersebut diakui bahwa Deli, Langkat, dan
Serdang berada di bawah pertuanan Aceh.[43] Tetapi hanya beberapa bulan
kemudian, pada hari Senin 1 Februari 1858 Belanda mengikat perjanjian
dengan Siak (Tractaat Siak). Salah satu isi perjanjian tersebut
disebutkan bahwa kerajaan Siak Sri Inderapura serta daerah taklukannya
mengaku berada di bawah kedaulatan Belanda dan menjadi bagian dari
Hindia-Belanda. Adapun bagian dari kerajaan Siak adalah meliputi :
Negeri Tanah Putih, Bangko, Kubu, Bilah, Panai, Kualuh, Asahan, Batu
Bara, Bedagai, Padang, Serdang, Percut, Perbaungan, Deli, Langkat dan
Tamiang. Dengan politik Devide et Impera Belanda berhasil mengatasi
penetrasi dan melemahkan kekuatan Aceh dan Siak serta menanamkan
kekuasaannya secara nyata pada kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur,
hingga pada tahun 1942 Jepang berhasi menduduki Indonesia
(Hindia-Belanda).
Pada masa pemerintahan Jepang,
raja-raja di Sumatera Timur ditugaskan untuk membantu pelaksanaan
kebijaksanaan politik pemerintah Jepang, di mana raja atau sultan hanya
bertugas mengurus persoalan adat istiadat saja.[44] Dengan demikian
raja-raja yang diangkat oleh pemerintah Belanda sebelumnya termasuk para
pegawainya masih tetap menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan
garis-garis yang telah ditetapkan Jepang.
Kemajuan dan Awal Keruntuhan Kesultanan Langkat
Pada masa pemerintahan sultan
Musa, kerajaan langkat masih mendapat tekanan dari pihak Aceh dan
Belanda dan beberapa daerah di sekitar kerajaan Langkat, dengan ini
sultan Musa lebih menekankan kepada perjanjian damai, sehingga pada masa
pemerintahannnya kerajaan Langkat berkembang menjadi kerajaan yang
megah dan besar. Pada masa ini, pusat kerajaan memiliki dua buah istana
yang megah yang diberi nama istana Darul Aman dan istana Darussalam yang
saling berdekatan.[45] Istana lama bernama istana Darul Aman bercirikan
ornamen Arab dan terbuat dari batu bata. Sedangkan Istana Baru
Darussalam terbuat dari kayu bercirikan ornamen Cina dan memiliki menara
seperti pagoda di bagian tengah bangunannya. Kemajuan-kemajuan yang
lain diantaranya; pendirian Tariqat Naqsabandiyah, pengembangan dan
perluasan-perluasan wilayah dengan nama kejeruan (kecamatan) yang
meliputi perbatasan Aceh Tamiang, Bahorok dan Binjai. Serta ditemukannya
telaga Said (sumur minyak) di Securai pada tahun 1860. Maka pada tahun
1883 diadakan kesepakatan kerjasama dengan maskapai perminyakan Belanda
bernama Bapapte Petroleum Maatschappij (BPM)[46] untuk menghasilkan
minyak bumi yang nantinya maskapai perminyakan ini merupakan embrio
munculnya Pertamina di Sumatera Timur.
Pada tahun 1893, sultan Musa
menobatkan putranya yang bernama Tengku Abdul Azis menjadi sultan
Langkat. Pada masa pemerintahan sultan Azis, berdirilah masjid Azizi,
masjid megah yang memiliki arsitektur mozaik Persia dan dapat menampung
ribuan jemaah.[47] Di samping itu, ia juga mendirikan perguruan
Jama’iyah Mahmudiyah, sebagai pusat pendidikan Islam. Sementara untuk
pendidikan umum oleh sultan Azis dibangun Sekolah HIS (Holland
Indonesian School) dan Sekolah Melayu, ELS (Europese Logare School) dan
untuk anak-anak keturunan Cina didirikan Holland Chinese School atau
HCS.
Pada tahun 1926 sultan Azis
menobatkan putranya Tengku Mahmud sebagai sultan Langkat. Masa
kepemimpinan tengku Mahmud ia hanya meneruskan kebijaksanaan ayahnya dan
memindahkan pusat kerajaan di Binjai serta membangun sebuah istana di
sana hingga sampai masa kemerdekaan Indonesia serta masa revolusi sosial
tahun 1946, maka berakhirlah kerajaan Langkat menjadi daerah kabupaten.
Pada masa sultan Mahmud, kesultanan Langkat hanya merupakan sebuah
simbol pemerintahan saja, sementara Pemerintahan Belanda telah begitu
kuat dan dalam mengendalikan semua kekuasaan dan kebijakan-kebijakan
yang banyak merugikan masyarakat Langkat.
BENTENG PUTRI HIJAU: SITUS KERAJAAN ARU DELI TUA SUMATRA TIMUR
BENTENG PUTRI HIJAU: SITUS KERAJAAN ARU DELI TUA SUMATRA TIMUR
BENTENG PUTRI HIJAU: SITUS KERAJAAN ARU
DELI TUA SUMATRA TIMUR
DELI TUA SUMATRA TIMUR
Pengantar
Sejarah peradaban di ujung pulau Andalas dimulai sejak ditemukannya prasasti Lobu Tua Barus (Tapanuli Tengah) yang berangka tahun 1088 M yang menyebut adanya sekitar 1500 orang yang bermukim dikawasan tersebut (Guillot, 2002). Pada umumnya, masyarakatnya adalah pedagang terutama Kapur Barus dan Kemenyan yang banyak ditemukan di pulau Sumatra. Oleh karenanya, dapat dinyatakan bahwa Barus menjadi Bandar perniagaan mancanegara pertama di Sumatra Utara dengan komoditas niaga utamanya yakni Kapur Barus (Champher) dan kemenyan. Diyakini bahwa situs ini berdiri sejak abad ke-6 hingga 11 M dan pasca penetrasi saudagar islam kemudian masyarakatnya terdesak kepedalaman dan membentuk komunitas tersendiri dengan budaya tersendiri pula. Era dimana masuknya Islam di Barus melalui jalur perdagangan ini sekaligus menandai masuk dan berkembangnya agama Islam di ujung pulau Andalas ini.
Situs Lobu Tua Barus adalah situs sejarah tertua (oldest sites) yang telah ditemukan di Sumatra Utara hingga saat ini, kemudian pada periode berikutnya dikenal situs Portibi Padang Lawas Tapanuli Selatan pada abad ke-11. Bukti nyata peninggalan situs Portibi adalah Candi Bahal yang terpengaruh Hindu dan masih eksis hingga kini. Disamping itu, terdapat tiga situs kuno (ancient sites) lainnya yang terletak dikawasan Timur Sumatra Utara yakni Kota Cina (Abad ke 10-13), Kota Rentang (abad 13-14) dan Deli Tua (abad 14-15). Satu situs yang disebut pertama plus Barus dan Portibi telah dicatat oleh Eric M. Oey (1991) dalam bukunya ”Sumatra” dan disebut sebagai kerajaan kuna (ancient kingdom) di Sumatra Utara. Kecuali Kota Cina, dua situs lainnya di kawasan Sumatra Timur yakni Kota Rentang (telah diekskavasi) dan Deli Tua (belum diekskavasi) belum banyak ditulis dan diteliti.
Sejarah peradaban di ujung pulau Andalas dimulai sejak ditemukannya prasasti Lobu Tua Barus (Tapanuli Tengah) yang berangka tahun 1088 M yang menyebut adanya sekitar 1500 orang yang bermukim dikawasan tersebut (Guillot, 2002). Pada umumnya, masyarakatnya adalah pedagang terutama Kapur Barus dan Kemenyan yang banyak ditemukan di pulau Sumatra. Oleh karenanya, dapat dinyatakan bahwa Barus menjadi Bandar perniagaan mancanegara pertama di Sumatra Utara dengan komoditas niaga utamanya yakni Kapur Barus (Champher) dan kemenyan. Diyakini bahwa situs ini berdiri sejak abad ke-6 hingga 11 M dan pasca penetrasi saudagar islam kemudian masyarakatnya terdesak kepedalaman dan membentuk komunitas tersendiri dengan budaya tersendiri pula. Era dimana masuknya Islam di Barus melalui jalur perdagangan ini sekaligus menandai masuk dan berkembangnya agama Islam di ujung pulau Andalas ini.
Situs Lobu Tua Barus adalah situs sejarah tertua (oldest sites) yang telah ditemukan di Sumatra Utara hingga saat ini, kemudian pada periode berikutnya dikenal situs Portibi Padang Lawas Tapanuli Selatan pada abad ke-11. Bukti nyata peninggalan situs Portibi adalah Candi Bahal yang terpengaruh Hindu dan masih eksis hingga kini. Disamping itu, terdapat tiga situs kuno (ancient sites) lainnya yang terletak dikawasan Timur Sumatra Utara yakni Kota Cina (Abad ke 10-13), Kota Rentang (abad 13-14) dan Deli Tua (abad 14-15). Satu situs yang disebut pertama plus Barus dan Portibi telah dicatat oleh Eric M. Oey (1991) dalam bukunya ”Sumatra” dan disebut sebagai kerajaan kuna (ancient kingdom) di Sumatra Utara. Kecuali Kota Cina, dua situs lainnya di kawasan Sumatra Timur yakni Kota Rentang (telah diekskavasi) dan Deli Tua (belum diekskavasi) belum banyak ditulis dan diteliti.
Kerajaan (H)Aru
Sumber-sumber klasik tentang Aru banyak didasarkan pada tulisan penguasa Portugis di Melaka yakni Mendez Pinto, pengembara China, kisah Pararaton maupun Sejarah Melayu. Sumber tersebut mengetengahkan bahwa di Sumatra Utara sekarang terdapat satu kerajaan yang besar yakni (H)Aru. Namun, hingga saat ini belum ada suatu kesimpulan utuh yang menyatakan asal muasal dan lokasi kerajaan Aru, dan lagi disertai adanya tarik menarik antara Karo, Melayu dan Aceh hingga Batak Timur.
Dalam banyak literatur, disebut bahwa Teluk Aru adalah pusat kerajaan ARU dan belum pernah diteliti. Namun, McKinnon menolak apabila kawasan tersebut dinyatakan belum pernah diteliti sekaligus juga menolak apabila Teluk Aru disebut sebagai pusat kerajaan Aru. Teluk Aru telah diteliti pada tahun 1975-1976 dan hasilnya adalah ”Pulau Kompei”. Diakui bahwa terdapat peninggalan di wilayah Teluk Aru, tetapi berdasarkan jalur hinterland kurang mendukung Teluk Aru sebagai satu centrum kerajaan. Seperti diketahui bahwa jalur dari Karo plateau maupun hinterland menuju pantai timur, dari utara ke selatan melalui gunung adalah: Buaya, Liang, Negeri, Cingkem yang menuju ke Sei Serdang maupun ke Sei Deli, Sepuluhdua Kuta, Bekancan, Wampu ke Bahorok. Maupun jalur sungai diantara Sei Wampu bagian hilir sekitar Stabat dan Sei Sunggal ke Belawan. Fokusnya diwilayah pantai diantara Sei Wampu dan Muara Deli (Catatan Anderson tentang pentingnya Muara Deli).
Penulis Karo mengemukakan bahwa (H)Aru adalah asal kata ”Karo” yang berevolusi. Oleh karena itu, kelompok ini mengklaim bahwa masyarakat kerajaan Aru adalah masyarakat yang memiliki clan Karo dan didirikan oleh clan Kembaren. Walau demikian, penulis Karo seperti Brahmo Putro (1979) sependapat dan mengakui bahwa centrum kerajaan ini berpindah-pindah hingga ke Aceh, Deli Tua, Keraksaan (Batak Timur), Lingga, Mabar, maupun Barumun. Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1492-1537. Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Batak Karo.
Demikian pula penulis Melayu yang mengemukakan bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan Melayu yang sangat besar pada zamanya, lokasi kerajaanya tidak menetap akibat gempuran musuh terutama yang datangnya dari Aceh. Hal ini telah banyak dicatat oleh Lukman Sinar dalam jilid pertama bukunya dengan judul Sari Sedjarah Serdang (1986). Menurutnya, nama ARU muncul pertama kalinya dalam catatan resmi Tiongkok pada saat ARU mengirimkan misi ke Tiongkok pada tahun 1282 pada era kepemimpinan Kublai-Khan. Demikian pula dalam buku ”Sejarah Melayu” yang banyak menyebut tentang kerajaan ARU. Berdasarkan literatur tersebut, Lukman Sinar dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa pusat kerajaan ARU adalah Deli Tua dan telah menganut Islam.
Namun, seperti yang telah diingatkan oleh Prof. Wolters bahwa data-data yang bersumber dari tulisan China dari abad ke 13-15 bukan nyata dari penelitian namun sebatas pengamatan pintas. Oleh sebab itu, pembuktian terhadap tulisan itu harus diarahkan kedalam tanah (ekskavasi) yakni untuk merekontruksi jejak-jejak peradaban (H)ARU di lokasi dimaksud.
Barangkali, yang dimaksud oleh tulisan-tulisan tersebut adalah Kota Rentang karena berdasarkan bukti-bukti arkeologis banyak ditemukan batu kubur (nisan) yang terbuat dari batu Cadas (Volcanoic tuff) dengan ornamentasi Jawi dan nisan sejenis banyak ditemukan di tanah Aceh. Sedangkan tanda-tanda ARU Deli Tua dinyatakan islam hampir tidak diketemukan selain sebuah meriam buatan portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Lagi pula, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam ”Sejarah Melayu” juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda pada tahun 1612 dan 1619. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa centrum ARU yang telah terpengaruh Islam yang dimaksud pada laporan-laporan penulis Cina dan ”Sejarah Melayu” tersebut adalah Kota Rentang.
Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005).
Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR pada tahun 1285. Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum diserang oleh laskar Aceh.
Tentang hal ini, McKinnon (2008) menulis:”Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Pada akhirnya, sebagai dampak serangan Aceh yang terus menerus ke Kota Rentang, maka ARU pindah ke Deli Tua yakni pada pertengahan abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar mulai berkuasa di Aceh. McKinnon (2008) menulis “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter”.
Sumber-sumber klasik tentang Aru banyak didasarkan pada tulisan penguasa Portugis di Melaka yakni Mendez Pinto, pengembara China, kisah Pararaton maupun Sejarah Melayu. Sumber tersebut mengetengahkan bahwa di Sumatra Utara sekarang terdapat satu kerajaan yang besar yakni (H)Aru. Namun, hingga saat ini belum ada suatu kesimpulan utuh yang menyatakan asal muasal dan lokasi kerajaan Aru, dan lagi disertai adanya tarik menarik antara Karo, Melayu dan Aceh hingga Batak Timur.
Dalam banyak literatur, disebut bahwa Teluk Aru adalah pusat kerajaan ARU dan belum pernah diteliti. Namun, McKinnon menolak apabila kawasan tersebut dinyatakan belum pernah diteliti sekaligus juga menolak apabila Teluk Aru disebut sebagai pusat kerajaan Aru. Teluk Aru telah diteliti pada tahun 1975-1976 dan hasilnya adalah ”Pulau Kompei”. Diakui bahwa terdapat peninggalan di wilayah Teluk Aru, tetapi berdasarkan jalur hinterland kurang mendukung Teluk Aru sebagai satu centrum kerajaan. Seperti diketahui bahwa jalur dari Karo plateau maupun hinterland menuju pantai timur, dari utara ke selatan melalui gunung adalah: Buaya, Liang, Negeri, Cingkem yang menuju ke Sei Serdang maupun ke Sei Deli, Sepuluhdua Kuta, Bekancan, Wampu ke Bahorok. Maupun jalur sungai diantara Sei Wampu bagian hilir sekitar Stabat dan Sei Sunggal ke Belawan. Fokusnya diwilayah pantai diantara Sei Wampu dan Muara Deli (Catatan Anderson tentang pentingnya Muara Deli).
Penulis Karo mengemukakan bahwa (H)Aru adalah asal kata ”Karo” yang berevolusi. Oleh karena itu, kelompok ini mengklaim bahwa masyarakat kerajaan Aru adalah masyarakat yang memiliki clan Karo dan didirikan oleh clan Kembaren. Walau demikian, penulis Karo seperti Brahmo Putro (1979) sependapat dan mengakui bahwa centrum kerajaan ini berpindah-pindah hingga ke Aceh, Deli Tua, Keraksaan (Batak Timur), Lingga, Mabar, maupun Barumun. Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1492-1537. Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Batak Karo.
Demikian pula penulis Melayu yang mengemukakan bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan Melayu yang sangat besar pada zamanya, lokasi kerajaanya tidak menetap akibat gempuran musuh terutama yang datangnya dari Aceh. Hal ini telah banyak dicatat oleh Lukman Sinar dalam jilid pertama bukunya dengan judul Sari Sedjarah Serdang (1986). Menurutnya, nama ARU muncul pertama kalinya dalam catatan resmi Tiongkok pada saat ARU mengirimkan misi ke Tiongkok pada tahun 1282 pada era kepemimpinan Kublai-Khan. Demikian pula dalam buku ”Sejarah Melayu” yang banyak menyebut tentang kerajaan ARU. Berdasarkan literatur tersebut, Lukman Sinar dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa pusat kerajaan ARU adalah Deli Tua dan telah menganut Islam.
Namun, seperti yang telah diingatkan oleh Prof. Wolters bahwa data-data yang bersumber dari tulisan China dari abad ke 13-15 bukan nyata dari penelitian namun sebatas pengamatan pintas. Oleh sebab itu, pembuktian terhadap tulisan itu harus diarahkan kedalam tanah (ekskavasi) yakni untuk merekontruksi jejak-jejak peradaban (H)ARU di lokasi dimaksud.
Barangkali, yang dimaksud oleh tulisan-tulisan tersebut adalah Kota Rentang karena berdasarkan bukti-bukti arkeologis banyak ditemukan batu kubur (nisan) yang terbuat dari batu Cadas (Volcanoic tuff) dengan ornamentasi Jawi dan nisan sejenis banyak ditemukan di tanah Aceh. Sedangkan tanda-tanda ARU Deli Tua dinyatakan islam hampir tidak diketemukan selain sebuah meriam buatan portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Lagi pula, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam ”Sejarah Melayu” juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda pada tahun 1612 dan 1619. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa centrum ARU yang telah terpengaruh Islam yang dimaksud pada laporan-laporan penulis Cina dan ”Sejarah Melayu” tersebut adalah Kota Rentang.
Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005).
Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR pada tahun 1285. Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum diserang oleh laskar Aceh.
Tentang hal ini, McKinnon (2008) menulis:”Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Pada akhirnya, sebagai dampak serangan Aceh yang terus menerus ke Kota Rentang, maka ARU pindah ke Deli Tua yakni pada pertengahan abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar mulai berkuasa di Aceh. McKinnon (2008) menulis “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter”.
Kisah Putri Hijau
Diatas telah disebut bahwa pasca serangan Aceh ke ARU terdahulu, telah menyebabkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Bukti-bukti peninggalan ARU Deli Tua adalah seperti benteng pertahanan (kombinasi alam dan bentukan manusia) yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Catatan resmi tentang benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra (1866-1867) maupun Anderson pada tahun 1823 dimana digambarkan bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan. Menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka tahun 1512-1515 bahwa ibukota (H)ARU berada di sungai ‘Panecitan’ yang dapat dilalui setelah lima hari pelayaran dari Malaka. Pinto juga mencatat bahwa raja (H)ARU sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng dan letak istananya kira-kira satu kilometer kedalam benteng. (H)ARU mempunyai sebuah meriam besar, yang dibeli dari seorang pelarian Portugis.
Temuan lainnya adalah mata uang Aceh yang terbuat dari emas, dimana masyarakat disekitar benteng masih kerap menemukanya. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh pernah menyerang ARU Deli Tua dengan menyogok pengawal kerajaan dengan mata uang emas. Selanjutnya, menurut Lukman Sinar (1991) di Deli Tua pada tahun 1907 dijumpai guci yang berisi mata uang Aceh dan kini tersimpan di Museum Raffles Singapura. Temuan lainnya adalah berupa keramik dan tembikar yang pada umumnya percis sama dengan temuan di Kota Rentang. Temuan keramik dan tembikar ini adalah barang bawaan dari Kota Rentang pada saat masyarakatnya mencari perlindungan dari serangan Aceh.
Hingga saat ini, temuan berupa uang Aceh, keramik dan tembikar dapat ditemukan disembarang tempat disekitar lokasi benteng. Akan tetapi, dari bukti-bukti yang ada itu, tidak diketahui secara jelas apakah ARU Deli Tua telah menganut Islam. Pendapat yang mengemukakan bahwa ARU Deli Tua adalah Islam didasarkan pada sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Akan tetapi di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan tulisan Pinto bahwa ARU memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah yang kemudian di sebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus menerus hingga terbagi dua.
Faktor penyebab serangan Aceh ke ARU yang berlangsung terus menerus adalah dalam rangka unifikasi kerajaan dalam genggaman kesultanan Aceh. Lagipula, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa ARU terdahulu ditaklukkan oleh laskar Aceh yang mengakibatkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Hal ini menjadi jelas bahwa hubungan diplomatik antara ARU dengan Aceh tidak pernah harmonis. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa faktor serangan Aceh ke Deli Tua adalah akibat penolakan sang Putri untuk dinikahkan dengan Raja Aceh.
Mengingat kuatnya benteng pertahanan ARU Deli Tua yang ditumbuhi bambu, sehingga menyulitkan serangan Aceh. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan ARU Deli Tua. Benteng dapat direbut dan rajanya dapat ditewaskan.
Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Tetapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikah dengan raja Johor apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor. Gocah Pahlawan sebagai wali negeri Aceh di ARU yakni kesultanan DELI.
Diatas telah disebut bahwa pasca serangan Aceh ke ARU terdahulu, telah menyebabkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Bukti-bukti peninggalan ARU Deli Tua adalah seperti benteng pertahanan (kombinasi alam dan bentukan manusia) yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Catatan resmi tentang benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra (1866-1867) maupun Anderson pada tahun 1823 dimana digambarkan bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan. Menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka tahun 1512-1515 bahwa ibukota (H)ARU berada di sungai ‘Panecitan’ yang dapat dilalui setelah lima hari pelayaran dari Malaka. Pinto juga mencatat bahwa raja (H)ARU sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng dan letak istananya kira-kira satu kilometer kedalam benteng. (H)ARU mempunyai sebuah meriam besar, yang dibeli dari seorang pelarian Portugis.
Temuan lainnya adalah mata uang Aceh yang terbuat dari emas, dimana masyarakat disekitar benteng masih kerap menemukanya. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh pernah menyerang ARU Deli Tua dengan menyogok pengawal kerajaan dengan mata uang emas. Selanjutnya, menurut Lukman Sinar (1991) di Deli Tua pada tahun 1907 dijumpai guci yang berisi mata uang Aceh dan kini tersimpan di Museum Raffles Singapura. Temuan lainnya adalah berupa keramik dan tembikar yang pada umumnya percis sama dengan temuan di Kota Rentang. Temuan keramik dan tembikar ini adalah barang bawaan dari Kota Rentang pada saat masyarakatnya mencari perlindungan dari serangan Aceh.
Hingga saat ini, temuan berupa uang Aceh, keramik dan tembikar dapat ditemukan disembarang tempat disekitar lokasi benteng. Akan tetapi, dari bukti-bukti yang ada itu, tidak diketahui secara jelas apakah ARU Deli Tua telah menganut Islam. Pendapat yang mengemukakan bahwa ARU Deli Tua adalah Islam didasarkan pada sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Akan tetapi di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan tulisan Pinto bahwa ARU memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah yang kemudian di sebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus menerus hingga terbagi dua.
Faktor penyebab serangan Aceh ke ARU yang berlangsung terus menerus adalah dalam rangka unifikasi kerajaan dalam genggaman kesultanan Aceh. Lagipula, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa ARU terdahulu ditaklukkan oleh laskar Aceh yang mengakibatkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Hal ini menjadi jelas bahwa hubungan diplomatik antara ARU dengan Aceh tidak pernah harmonis. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa faktor serangan Aceh ke Deli Tua adalah akibat penolakan sang Putri untuk dinikahkan dengan Raja Aceh.
Mengingat kuatnya benteng pertahanan ARU Deli Tua yang ditumbuhi bambu, sehingga menyulitkan serangan Aceh. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan ARU Deli Tua. Benteng dapat direbut dan rajanya dapat ditewaskan.
Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Tetapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikah dengan raja Johor apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor. Gocah Pahlawan sebagai wali negeri Aceh di ARU yakni kesultanan DELI.
Putri Hijau (Green Princess) adalah salah
satu ’cerita’ kepahlawanan (folk hero) yang dikenal dan berkembang
luas, paling tidak pada tiga kelompok suku yakni Melayu, Karo dan Aceh.
Sebagai cerita rakyat (folktale) kisah Putri Hijau pada awalnya
merupakan tradisi lisan (oral) milik bersama masyarakat (communal),
berasal dari satu daerah (local) dan diturunkan secara informal
(Toelken, 1979:31). Kisah ini memiliki sifat oral dan informal sehingga
cenderung mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan. Oleh
karenanya, tidak mengherankan apabila dikemudian hari terdapat versi
cerita yang berbeda-beda. Wan Syaiffuddin (2003) mengemukakan versi
cerita dimaksud seperti: Syair Puteri Hijau (A. Rahman, 1962); Sejarah
Putri Hijau dan Meriam Puntung (Said Effendi, 1977); Puteri Hijau (Hans
M. Nasution, 1984) dan Kisah Puteri Hijau (Burhan AS, 1990).
Adanya unsur-unsur pseudo-historis, yakni anggapan kejadian dan kekuatan yang digambarkan luar biasa dalam kisah Putri Hijau cenderung merupakan tambahan dari kisah yang sebenarnya dengan tujuan euhemerisme yakni menimbulkan kekaguman para pendengarnya. Sejalan dengan hal ini, seperti yang diingatkan oleh Baried (1985) bahwa ”kisah’ cenderung menunjukkan cerita yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, kisah Putri Hijau adalah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi (Husny, 1975; Said, 1980 dan Sinar, 1991). Dengan begitu, sifat imajinatif-diluar kelogisan nalar manusia-yang terdapat dapat kisah tersebut tidak perlu ditafsirkan secara mendalam karena sifat itu di buat untuk tujuan euhemerisme.
Adanya unsur-unsur pseudo-historis, yakni anggapan kejadian dan kekuatan yang digambarkan luar biasa dalam kisah Putri Hijau cenderung merupakan tambahan dari kisah yang sebenarnya dengan tujuan euhemerisme yakni menimbulkan kekaguman para pendengarnya. Sejalan dengan hal ini, seperti yang diingatkan oleh Baried (1985) bahwa ”kisah’ cenderung menunjukkan cerita yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, kisah Putri Hijau adalah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi (Husny, 1975; Said, 1980 dan Sinar, 1991). Dengan begitu, sifat imajinatif-diluar kelogisan nalar manusia-yang terdapat dapat kisah tersebut tidak perlu ditafsirkan secara mendalam karena sifat itu di buat untuk tujuan euhemerisme.
Akan tetapi, penelitian dan ekskavasi arkeologi belum pernah dilakukan sehingga menyulitkan rekontruksi masa lalu ARU Deli Tua.
Kearah Penelitian Arkeologi
Penelitian dan ekskavasi arkeologis telah dilakukan di Kota Cina terutama oleh Edward McKinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989). Temuan-temuan spektakuler di situs seluas 36 Ha ini telah disimpan rapi di Museum Negeri Sumatera Utara berupa keramik, mata uang, batu berfragmen candi ataupun archa. Temuan-temuan hasil penggalian arkeologis di Kota Cina berupa stonewares dan earthenwares dari dinasti Sung, Yuan dan Ming, archa Wisnu dan Lakhsmi serta Budha, menjelaskan bahwa kawasan ini terpengaruh oleh Hindu dan Budha. Demikian pula, kontruksi candi yang terpendam sedalam 60 cm dibawah permukaan tanah. Disamping itu, ditemukan pula jenis mata uang yang berasal dari mancanegara seperti Tiongkok, Burma, India Selatan maupun Thailand dan Muang Thai.
Situs Kota Rentang seluas 500-1000 Ha ini diteliti dan dilakukan penggalian oleh McKinnon pada bulan Maret 2008. Temuan penting dan berharga dari penelitian dan penggalian tersebut adalah ditemukannya stonewares dan earthenwares terutama dari dinasti Yuan dan Ming, mata uang maupun batu kubur (nisan) yang tersebar luas di situs sejarah (historical sites) tersebut. Temuan berupa batu kubur yang percis sama dengan di Aceh, sekaligus menguatkan dugaan bahwa kawasan ini pernah dikuasai oleh Islam terutama yang datang dari Aceh. Namun demikian, sebelum di kuasai oleh Aceh, kawasan ini lebih dahulu dipengaruhi oleh Hindu maupun Budha karena adanya temuan batu dan kayu besar yang diduga bekas bangunan candi.
Daerah ini dijelajahi oleh E. E. McKinnon, (Arkeolog Inggris) pada tahun 1972, sebelum memutuskan menggali di Kota Cina. Beliau menulis: ”beberapa nisan batu Aceh yang besar dan signifikan yang ada di Kota Rentang pada tahun 1972 sekarang sudah menghilang, tetapi dari jenis-jenisnya yang dilihat dahulu, maka mendukung anggapan lokasi di Kota Rentang sebagai pemukiman orang-orang bangsawan. Sama juga dengan mutu keramik dari awal abad ke-13 yang telah ditemui dilokasi-lokasi yang sama, yaitu dari misi pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zhenghe) dan kunjungannya ke ARU pada tahun 1411-1431”.
Pendudukan Aceh di Kota Rentang, telah mengubah populasinya dengan warna Islam. Batu nisan di impor dari Aceh dan menjadi pertanda bagi orang meninggal dunia dan umumnya mereka itu adalah kaum bangsawan Kota Rentang. Dan yang terpenting adalah dibentuk dan didirikannya sebuah kerajaan dengan corak Islam yang dikemudian hari dikenal dengan ARU (abad ke-13). Hal ini senada dengan bukti-bukti yang ada berupa tulisan dan laporan yang menyebutkan bahwa nama kerajaan (H)Aru telah disebut pada abad ke -13.
Situs Benteng Putri Hijau (Ijo) terdapat di Deli Tua-Namu Rambe dan berdasarkan survei yang dilakukan oleh John Miksic (1979) luasnya adalah 150 x 60 M2 atau 360 Ha. Letaknya percis diantarai dua lembah (splendid area) yang disebelah baratnya mengalir Lau Patani/Sungai Deli. Temuan penting dari situs ini adalah ditemukannya benteng pertahanan yang terbuat secara alami maupun bentukan manusia. Situs ini termasuk dalam kategori local genius terutama dalam menghadapi musuh, yakni musuh yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Oleh karenanya, musuh memerlukan energi yang cukup kuat untuk bisa sampai kepusat benteng. Menurut McKinnon, jenis benteng seperti ini banyak terdapat di Scotlandia maupun Inggris sebelum abad pertengahan.
Temuan lain adalah banyaknya keramik ataupun tembikar yang menunjuk tarik yang hampir sama dengan temuan di Kota Rentang, juga temuan mata uang (koin) Dirham, mata uang emas dari Aceh yang banyak ditemukan oleh masyarakat sekaligus menjadi bukti sejarah bahwa pasukan Aceh pernah menaklukkan kawasan ini dengan menembakkan meriam ber-peluru emas sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat Putri Hijau (green princess). Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1571, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda ini, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan. Diyakini bahwa lokasi ini merupakan pusat kerajaan Aru Deli Tua dimana kisah Puteri Hijau sangat popular dan banyak diketahui oleh masyarakat.
Penelitian dan ekskavasi arkeologis telah dilakukan di Kota Cina terutama oleh Edward McKinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989). Temuan-temuan spektakuler di situs seluas 36 Ha ini telah disimpan rapi di Museum Negeri Sumatera Utara berupa keramik, mata uang, batu berfragmen candi ataupun archa. Temuan-temuan hasil penggalian arkeologis di Kota Cina berupa stonewares dan earthenwares dari dinasti Sung, Yuan dan Ming, archa Wisnu dan Lakhsmi serta Budha, menjelaskan bahwa kawasan ini terpengaruh oleh Hindu dan Budha. Demikian pula, kontruksi candi yang terpendam sedalam 60 cm dibawah permukaan tanah. Disamping itu, ditemukan pula jenis mata uang yang berasal dari mancanegara seperti Tiongkok, Burma, India Selatan maupun Thailand dan Muang Thai.
Situs Kota Rentang seluas 500-1000 Ha ini diteliti dan dilakukan penggalian oleh McKinnon pada bulan Maret 2008. Temuan penting dan berharga dari penelitian dan penggalian tersebut adalah ditemukannya stonewares dan earthenwares terutama dari dinasti Yuan dan Ming, mata uang maupun batu kubur (nisan) yang tersebar luas di situs sejarah (historical sites) tersebut. Temuan berupa batu kubur yang percis sama dengan di Aceh, sekaligus menguatkan dugaan bahwa kawasan ini pernah dikuasai oleh Islam terutama yang datang dari Aceh. Namun demikian, sebelum di kuasai oleh Aceh, kawasan ini lebih dahulu dipengaruhi oleh Hindu maupun Budha karena adanya temuan batu dan kayu besar yang diduga bekas bangunan candi.
Daerah ini dijelajahi oleh E. E. McKinnon, (Arkeolog Inggris) pada tahun 1972, sebelum memutuskan menggali di Kota Cina. Beliau menulis: ”beberapa nisan batu Aceh yang besar dan signifikan yang ada di Kota Rentang pada tahun 1972 sekarang sudah menghilang, tetapi dari jenis-jenisnya yang dilihat dahulu, maka mendukung anggapan lokasi di Kota Rentang sebagai pemukiman orang-orang bangsawan. Sama juga dengan mutu keramik dari awal abad ke-13 yang telah ditemui dilokasi-lokasi yang sama, yaitu dari misi pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zhenghe) dan kunjungannya ke ARU pada tahun 1411-1431”.
Pendudukan Aceh di Kota Rentang, telah mengubah populasinya dengan warna Islam. Batu nisan di impor dari Aceh dan menjadi pertanda bagi orang meninggal dunia dan umumnya mereka itu adalah kaum bangsawan Kota Rentang. Dan yang terpenting adalah dibentuk dan didirikannya sebuah kerajaan dengan corak Islam yang dikemudian hari dikenal dengan ARU (abad ke-13). Hal ini senada dengan bukti-bukti yang ada berupa tulisan dan laporan yang menyebutkan bahwa nama kerajaan (H)Aru telah disebut pada abad ke -13.
Situs Benteng Putri Hijau (Ijo) terdapat di Deli Tua-Namu Rambe dan berdasarkan survei yang dilakukan oleh John Miksic (1979) luasnya adalah 150 x 60 M2 atau 360 Ha. Letaknya percis diantarai dua lembah (splendid area) yang disebelah baratnya mengalir Lau Patani/Sungai Deli. Temuan penting dari situs ini adalah ditemukannya benteng pertahanan yang terbuat secara alami maupun bentukan manusia. Situs ini termasuk dalam kategori local genius terutama dalam menghadapi musuh, yakni musuh yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Oleh karenanya, musuh memerlukan energi yang cukup kuat untuk bisa sampai kepusat benteng. Menurut McKinnon, jenis benteng seperti ini banyak terdapat di Scotlandia maupun Inggris sebelum abad pertengahan.
Temuan lain adalah banyaknya keramik ataupun tembikar yang menunjuk tarik yang hampir sama dengan temuan di Kota Rentang, juga temuan mata uang (koin) Dirham, mata uang emas dari Aceh yang banyak ditemukan oleh masyarakat sekaligus menjadi bukti sejarah bahwa pasukan Aceh pernah menaklukkan kawasan ini dengan menembakkan meriam ber-peluru emas sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat Putri Hijau (green princess). Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1571, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda ini, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan. Diyakini bahwa lokasi ini merupakan pusat kerajaan Aru Deli Tua dimana kisah Puteri Hijau sangat popular dan banyak diketahui oleh masyarakat.
Bandar Niaga
Kota Cina dan Kota Rentang dipercaya merupakan bandar internasional yang sangat sibuk dengan frekuensi niaga yang cukup tinggi. Hal lain dibuktikan dengan banyaknya temuan keramik dan mata uang yang berasal mancanegara seperti Tiongkok, China, Vietnam, Burma, Srilangka dan Arab. Arus perdagangan yang tinggi tersebut terutama ditujukan untuk perolehan komoditas seperti Kapur Barus dan Kemenyan maupun stonewares dan earthenwares. Jika merujuk pada dinasti Cina, maka keramik dan tembikar tersebut berasal dari Song, Yuan dan Ming. Tidak mustahil apabila material tersebut dibawa langsung dari negara asalnya untuk diperdagangkan atau dipertukarkan dengan kemenyan atau Kapur Barus dengan masyarakat setempat.
Jalur perdagangan sungai (riverine) merupakan entrance ke pusat perdagangan seperti Kota Cina dan Kota Rentang melalui sungai Deli, sungai Wampu dan sungai Sunggal yang bermuara ke Belawan (Belawan ertuary). Tentang hal ini, Anderson (1823) telah mengingatkan pentingnya jalur-jalur Sungai besar dan bermuara langsung ke Belawan. Lagipula, temuan bongkahan perahu yang ditemukan di kedua lokasi (Kota Rentang dan Kota Cina) menjadi bukti nyata bahwa kedua area ini menjadi bandar niaga yang padat dan sibuk. Hanya saja proses sedimentasi yang berlangsung ratusan tahun ini telah mengakibatkan kedua daerah ini seakan menjauh dari laut.
Situs yang telah ditemukan di pesisir pantai Timur Sumatra ini menandakan bahwa wilayah ini pernah menjadi bandar niaga bertaraf internasional sesuai zamanya, sekaligus menjadi centrum kerajaan Aru yang besar dan penting dalam menjelaskan peradaban Sumatra Timur. Namun, kekurang perhatian masyarakat dan instansi terkait terhadap situs-situs sejarah menjadi faktor utama (main factor) penyebab kemusnahan situs ini. Ironisnya, ketiga situs ini tak satupun yang terawat dan bahkan semuanya hampir musnah. Kota Cina telah diserobot dan diduduki oleh masyarakat dengan menjadikannya sebagai areal pemukiman dan pertanian, sama halnya dengan Kota Rentang. Sedangkan Benteng Putri Hijau terancam musnah sebagai dampak pembangunan perumahan yang percis menempel ke badan Benteng. Bahkan, sebagian badan benteng telah dirusak untuk memberi jalan ke perumahan yang tengah dibangun.
Kota Cina dan Kota Rentang dipercaya merupakan bandar internasional yang sangat sibuk dengan frekuensi niaga yang cukup tinggi. Hal lain dibuktikan dengan banyaknya temuan keramik dan mata uang yang berasal mancanegara seperti Tiongkok, China, Vietnam, Burma, Srilangka dan Arab. Arus perdagangan yang tinggi tersebut terutama ditujukan untuk perolehan komoditas seperti Kapur Barus dan Kemenyan maupun stonewares dan earthenwares. Jika merujuk pada dinasti Cina, maka keramik dan tembikar tersebut berasal dari Song, Yuan dan Ming. Tidak mustahil apabila material tersebut dibawa langsung dari negara asalnya untuk diperdagangkan atau dipertukarkan dengan kemenyan atau Kapur Barus dengan masyarakat setempat.
Jalur perdagangan sungai (riverine) merupakan entrance ke pusat perdagangan seperti Kota Cina dan Kota Rentang melalui sungai Deli, sungai Wampu dan sungai Sunggal yang bermuara ke Belawan (Belawan ertuary). Tentang hal ini, Anderson (1823) telah mengingatkan pentingnya jalur-jalur Sungai besar dan bermuara langsung ke Belawan. Lagipula, temuan bongkahan perahu yang ditemukan di kedua lokasi (Kota Rentang dan Kota Cina) menjadi bukti nyata bahwa kedua area ini menjadi bandar niaga yang padat dan sibuk. Hanya saja proses sedimentasi yang berlangsung ratusan tahun ini telah mengakibatkan kedua daerah ini seakan menjauh dari laut.
Situs yang telah ditemukan di pesisir pantai Timur Sumatra ini menandakan bahwa wilayah ini pernah menjadi bandar niaga bertaraf internasional sesuai zamanya, sekaligus menjadi centrum kerajaan Aru yang besar dan penting dalam menjelaskan peradaban Sumatra Timur. Namun, kekurang perhatian masyarakat dan instansi terkait terhadap situs-situs sejarah menjadi faktor utama (main factor) penyebab kemusnahan situs ini. Ironisnya, ketiga situs ini tak satupun yang terawat dan bahkan semuanya hampir musnah. Kota Cina telah diserobot dan diduduki oleh masyarakat dengan menjadikannya sebagai areal pemukiman dan pertanian, sama halnya dengan Kota Rentang. Sedangkan Benteng Putri Hijau terancam musnah sebagai dampak pembangunan perumahan yang percis menempel ke badan Benteng. Bahkan, sebagian badan benteng telah dirusak untuk memberi jalan ke perumahan yang tengah dibangun.
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
SEJARAH SINGKAT KESULTANAN LANGKAT
Sejarah
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
Kesultanan Langkat merupakan kerajaan yang dulu memerintah di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekarang. Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Langkat sebelumnya merupakan bawahan Kesultanan Aceh sampai awal abad ke-19. Pada saat itu raja-raja Langkat meminta perlindungan Kesultanan Siak. Tahun 1850 Aceh mendekati Raja Langkat agar kembali ke bawah pengaruhnya, namun pada 1869 Langkat menandatangani perjanjian dengan Belanda, dan Raja Langkat diakui sebagai sultan pada tahun 1877.
Kesultanan Langkat runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga Kesultanan Langkat yang terbunuh, termasuk Tengku Amir Hamzah, penyair Angkatan Pujangga Baru dan pangeran Kesultanan Langkat.
Penguasa
- 1568-1580 : Panglima Dewa Shahdan
- 1580-1612 : Panglima Dewa Sakti, anak raja sebelumnya
- 1612-1673 : Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakdi, anak raja sebelumnya
- 1673-1750 : Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar, anak raja sebelumnya
- 1750-1818 : Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman, anak raja sebelumnya
- 1818-1840 : Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, keponakan raja sebelumnya
- 1840-1893 : Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad, anak raja sebelumnya
- 1893-1927 : Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Haji Musa, anak raja sebelumnya
- 1927-1948 : Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah bin Sultan Abdul Aziz, anak raja sebelumnya
- 1948-1990 : Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, anak raja sebelumnya, sebagai pemimpin keluarga kerajaan
- 1990-1999 : Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, saudara raja sebelumnya
- 1999-2001 : Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
- 2001-2003 : Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, gelar Sultan dipakai kembali
- 2003- : Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, cucu Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
Langganan:
Postingan (Atom)